• head_4

Selamat Datang di Website SMA NEGERI 11 MAROS | Terima Kasih Kunjungannya

Pencarian

Login Member

Username:
Password :

Kontak Kami


SMA NEGERI 11 MAROS

NPSN : 40308325

Jl. Pangkasalo Kel. Baju Bodoa Kec. Maros Baru Kode Pos 90515


smansesmaros@yahoo.com

TLP : 0853 9899 2226


          

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda mengenai web sekolah kami ?
Sangat bagus
Bagus
Kurang Bagus
  Lihat

Statistik


Total Hits : 61714
Pengunjung : 27597
Hari ini : 4
Hits hari ini : 5
Member Online : 0
IP : 3.226.97.214
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Status Member

Impor (Mengundang) Guru Luar Negeri, Apa yang Salah?




Pendidikan Indonesia selalu menjadi fokus terhadap proses pembangunan sumber daya manusia. Karena pembangunan sumberdaya manusia yang bersifat long life education for all, mau tidak mau, menurut perkembangan pendidikan dewasa ini yang menuntut kesiapan sumber daya manusia dengan persaingan multi dimensi yang semakin berat, pembangunan sumberdaya manusia Indonesia yang siap menerima tantangan masa depan adalah bukan sesuatu yang bisa diabaikan.

Belum lagi  indeks sumber daya manusia masih di urutan ke-87 dari 157 negara di bawah negara asia tenggara.

"Apabila dilihat dari skala Asia Tenggara, investasi sumber daya manusia di Indonesia rupanya masih kalah dari Singapura (0,88), Vietnam (0,67), Malaysia (0,62), Thailand (0,60), dan Filipina (0,55)".Sumber

Bukti riil ini menunjukkan bahwa hingga saat ini tingkat sumber daya manusia yang berawal dari pendidikan yang juga masih jauh dari negara-negara tersebut. 

Yang implikasi negatifnya adalah ke depannya secara perlahan generasi penerus bangsa sedikit banyak akan kehilangan momentum kemajuan dalam berbagai dimensi kehidupan. Seperti kemajuan teknologi yang juga mensyaratkan kesiapan SDM yang handal. 

Dampaknya lagi, ketika negara-negara lainnya justru memiliki derajat pendidikan yang lebih tinggi tentu ke depannya sangat mungkin anak-anak Indonesia yang saat ini masih mengenyam pendidikan akan kehilangan ladang penghidupan mereka. 

Sebut saja jika pekerjaan menuntut teknologi yang tinggi maka besar kemungkinan anak-anak Indonesia tidak akan bisa mengikuti kemajuan yang terjadi.

Fakta yang harus menjadi perhatian semua elemen pendidikan, lebih khusus pemerintah dan masyarakat yang akan menerima semua konsekuensi terhadap pembangunan bangsa dan negara.

Begitu pula, masih hangat dalam pendengaran dan penglihatan kita tentang pernyataan Menko PMK, Puan Maharani, bahwa bangsa Indonesia akan mendatangkan guru-guru dari luar negeri agar mengajar di sekolah dalam negeri. 

Hingga beberapa elemen masyarakat turut menyuarakan pendapat tentang perlu dan tidaknya mendatangkan (meng-import) guru dari luar negeri demi memajukan generasi muda di negeri ini? Dalam pemahaman lain kata meng-import tidak diterima oleh Menko PMK tersebut, namun mendatangkan dengan transfer pengetahuan.

Meskipun agenda pemerintah dalam mendatangkan guru-guru dari luar negeri mendapat respons yang kompleks dari masyarakat, baik setuju, tidak setuju, maupun tanggapan tidak mengerti akan program yang hendak digulirkan, yang perlu dicermati adalah terkait kebermanfaatan dari program pemerintah tersebut.

Pertama, pendidikan Indonesia memang memiliki persoalan yang serius terkait prestasi lulusannya. Prestasi yang dimaksud bukan hanya terletak pada nilai-nilai yang bersifat kuantitatif semata, akan tetapi prestasi yang bersifat kualitatif yang terlihat dengan masih rendahnya kemampuan dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang riil, attitude yang lemah. Sehingga ada banyak lulusan yang justru mengedepankan emosi dan merusak jika terjadi konflik dalam kehidupan mereka.

Apalagi akhir-akhir ini konflik antar masyarakat yang melibatkan anak-anak muda kembali marak. Kenakalan anak kepada para orang tua, guru dan teman sebaya pun turut menghiasi laman informasi di tengah-tengah kita.

Seakan-akan menjadi potret inilah fakta rill kondisi anak-anak Indonesia. Mereka memiliki nilai bagus untuk ujian, tapi rendahnya kepekaan sosialnya. Tinggi nilai raport, tapi rendah akhlaknya. 

Padahal tujuan pendidikan nasional sudah jelas untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya. Manusia yang memiliki dimensi jasmani maupun rohani. Memiliki dimensi akal maupun hati. Menjadi makhluk individual pun sebagai makhluk sosial. Semua itu adalah dimensi yang mesti dikembangkan bagi anak-anak Indonesia.

Apakah dengan mengundang guru-guru luar negeri yang nota bene berlainan asal negara, tradisi atau budaya dan boleh jadi pemahaman tentang nilai-nilai kehidupan tidak menjadi persoalan? Jika ternyata kehadiran mereka bisa memberikan sumbangsih yang positif dan mewarnai kehidupan generasi muda yang tengah menuntut ilmu tersebut dengan nilai-nilai luhur, maka kehadiran mereka sangat dibutuhkan. 

Belum lagi dengan pengalaman yang berbeda akan proses pembelajaran tentu sangat bernilai dan urgen bagi kemajuan pendidikan di Indonesia. 

Kedua, dilihat dari sudut ketersediaan sarana dan prasarana yang ada di sekolah tujuan, apakah bisa mengcover alih tehnologi pembelajaran yang hendak ditransfer oleh guru-guru luar negeri tersebut? Jika ternyata para guru tersebut bisa mengendalikan persoalan tersebut, maka kehadiran mereka pun sangat positif. 

Bahkan jika suatu saat nanti diketemukan ada beberapa sarana tidak memadai, maka menjadi rekomendasi yang positif agar ketersediaannya semakin lengkap. Dan boleh jadi, guru-guru di sekolah yang dituju tentu mendapatkan ilmu dan teknologi baru dalam proses pembelajaran mereka.

Meskipun beberapa nilai positif yang mudah-mudahan bisa diterapkan di sekolah, ternyata ada pula beberapa kemungkinan yang bisa terjadi jika benar guru-guru atau dosen didatangkan dari luar negeri, misalnya:

Guru-guru  luar negeri harapannya memiliki pengalaman yang lebih baik yang hendak di tularkan pada guru-guru Indonesia. Tetapi menjadi sebuah persoalan tersendiri jika ternyata guru-guru dalam negeri "dianggap" tidak kredibel dan menjadi catatan negatif bagi mereka di negeri asalnya.

Tak pelak, kondisi yang boleh jadi buruk tersebut menjadi catatan buruk pula bagi anak-anak muda Indonesia bahwa mereka merupakan generasi yang dikatakan salah dalam mendidik sehingga mendapatkan apresiasi yang rendah. 

Belum lagi nilai-nilai negatif yang akan melekat pada guru-guru di Indonesia tersebut berbanding lurus dengan kondisi lembaga-lembaga di mana mereka menempuh pendidikan

Sebuah fenomena yang rumit dan perlu dicermati. Jika guru-gurunya saja "dianggap" tidak kredibel, maka secara otomatis stempel buruk pun akan diterima oleh lembaga dimana mereka mengenyam pendidikan. 

Mudah-mudahan ini tidak terjadi, lantaran lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia sudah mengikuti prosedur dan kurikulum yang sudah disesuaikan dengan standar nasional dan internasional. Menjadi persoalan lain jika ternyata lulusannya belum kredibel. 

Jika ternyata memang benar guru-guru tidak kredibel, maka dampak negatifnya lagi tentu saja akan banyak guru dari luar negeri yang mengisi kelas-kelas dalam negeri dengan pertimbangan guru luar negeri dianggap lebih mumpuni. 

Hal ini yang juga menjadi kekhawatiran bagi guru-guru dalam negeri akan bahaya termarginalnya peran mereka lantaran kalah dalam bersaing dengan guru "import" tersebut.

Meskipun kekhawatiran tersebut tidak perlu terjadi lantaran keberadaan mereka bukan untuk menggantikan status guru yang sudah ada, akan tetapi sebagai nilai tambah dan khasanah pendidikan yang membutuhkan tambahan-tambahan pengetahuan dan teknologi yang memang dibutuhkan bagi guru-guru yang sudah ada.

Namun demikian, semua program pemerintah hakekatnya bertujuan meningkatkan derajat pendidikan dan prestasi anak-anak bangsa. Maka kehadiran guru-guru dari luar negeri semestinya ditanggapi dengan nilai positif. 

Memberikan mereka ruang untuk berbagi pengalaman dan alih transfer pengetahuan yang lebih baik. Dampaknya kehadiran mereka tidak ditanggapi dengan tanggapan negatif, namun justru ditanggapi dengan positif lantaran kehadiran mereka memberikan manfaat bagi pendidikan anak-anak Indonesia.

Paling tidak, kehadiran mereka seperti cermin, apakah guru-guru di negeri ini sudah layak disebut guru dengan peran yang begitu kompleks, dan sebagai bagian penting untuk mawas diri, betapa pendidikan itu tidak bisa dikelola dengan setengah-setengah. Namun dengan melibatkan semua komponen pendukung termasuk guru sebagai fasilitator pendidikan anak-anak di Indonesia.

Salam

sumber : https://www.kompasiana.com/abangbecakabg4763/5cf06df03ba7f773e03c4130/impor-mengundang-guru-luar-negeri-apa-yang-salah?page=2




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :


   Kembali ke Atas